-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sabar yang Benar dan “Sabar” yang Salah (Artikel)

Rabu, 23 Agustus 2017 | 8/23/2017 02:22:00 PM WIB Last Updated 2017-08-23T07:22:52Z
Di dalam al-Qur’an sering sekali Allah menyebut kata sabar. Banyak pula Allah menyebut keutamaannya dan keunggulan orang-orang yang sabar, serta menjanjikan berbagai balasan baik kepada mereka. Bahkan sering pula Allah menjadikan kesabaran sebagai syarat diberikannya hidayah, pertolongan, rahmat, serta keselamatan.

Sering kali orang memaknai kata sabar ini dengan pengertian yang terbatas, sehingga melahirkan konotasi yang pasif dan statis, padahal makna yang sebenarnya tidaklah demikian. _Sabar bukan berarti diam menunggu datangnya pertolongan, apalagi pasrah dan menyerah pada nasib, serta terkurung dalam keputusasaan._ Sebaliknya, sabar justru mengisyaratkan adanya *ketegaran dan ketangguhan* dalam menghadapi hempasan gelombang dan badai kehidupan, sabar juga mengajarkan *ketekunan dan keuletan* sehingga memunculkan gagasan kreatif dan ide-ide cemerlang dalam mengatasi berbagai kesulitan dan problema hidup.

sumber gambar : dpbbm.co
Para ulama’ tasawuf mendefinisikan sabar dengan pengertian adanya “Ketahanan Jiwa” seseorang dalam *mengendalikan dorongan hawa nafsu* yang seringkali diperkuat oleh tipu daya syetan untuk melakukan penyimpangan dari jalan ALLAH. Apalagi ditambah dengan pengaruh lingkungan pergaulan yang selalu menghadirkan beragam persoalan dan sering pula diwarnai dengan guncangan-guncangan.

Berdasarkan pengertian terakhir ini, maka SABAR berarti ketabahan untuk selalu *berpegang teguh pada ajaran ALLAH*, meskipun harus menghadapi beratnya godaan dan rintangan. Orang yang sabar tidak akan pernah kehilangan pegangan dan selalu dapat mengendalikan diri ke arah jalan ALLAH, bagaimanapun beratnya tekanan dan beban kehidupan. Dengan demikian maka hakikat kesabaran itu mengandung makna *ketangguhan, ketabahan, ketekunan, istiqomah, kreatif, dan bahkan inovatif*.

Kalau kita lihat dalam al-Qur’an, maka pengertian sabar seperti disampaikan tadi sangat bersesuaian dengan firman Allah, surat Ali ‘Imran ayat 146: “Maka mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan mereka juga tidak menjadi lesu (patah semangat) serta tidak menyerah (kepada musuh), dan Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar.” Di dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa orang-orang yang sabar yang dicintai oleh Allah adalah mereka yang tidak lemah dalam menghadapi kesulitan, tidak mudah patah semangat dalam berjuang, dan tidak pernah menyerah pada lawan dalam membela agama Allah. Keseluruhan sifat yang disebut di dalam ayat ini mencerminkan pribadi yang kokoh, ulet dan selalu optimis dalam menghadapi segala rintangan.

Pemahaman dan penghayatan makna sabar seperti dikemukakan tadi patut kita kembangkan secara terus menerus dan kita aktualkan dalam sikap hidup keseharian, karena saat ini banyak sekali orang yang *kehilangan kesabaran* ketika menghadapi berbagai guncangan, baik guncangan politik, guncangan ekonomi, maupun guncangan budaya.

Banyak orang *kehilangan kendali diri* ketika memasuki wilayah politik sehingga begitu mudah melakukan kebohongan, kecurangan, pengkhianatan, membuat janji palsu, bahkan memanipulasi dalil-dalil agama hanya untuk meraih target-target politik mereka.

Demikian pula guncangan budaya yang membuat banyak orang kehilangan identitas dan citra dirinya, serta meninggalkan Budaya Islami yang luhur. Mereka begitu mudah larut dan terhanyut dalam Budaya Sekuler yang memporak-porandakan moral, baik dalam pola berpakaian, gaya bicara, tata pergaulan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Allah memerintahkan kepada kita agar bersabar yang baik (Shabran Jamiilan), yaitu kesabaran yang *tidak disertai keluh kesah* kepada siapapun selain hanya kepada Allah saja. Hal ini berarti bahwa sabar itu tidak pernah berkeluh kesah sedikitpun kepada siapapun, yang mencerminkan adanya jiwa yang tegar serta mental yang tangguh.

Allah swt Menjadikan sikap sabar ini sebagai ukuran utama untuk menilai *kualitas iman* seseorang. Oleh karena itulah, ALLAH selalu Memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya untuk menilai kualitas iman yang terungkap dalam tingkat kesabaran mereka.

Dan dalam al-Qur’an beberapa kali Allah Menyatakan bahwa Dia pasti akan menguji setiap hamba-Nya, salah satunya terdapat pada surat Muhammad ayat 31, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kalian sehingga kami mengetahui orang yang sungguh-sungguh berjuang dan bersabar diantara kalian, dan kami mengetahui kenyataan sikap kalian.”

Ujian yang ditimpakan oleh Allah ada kalanya berupa Kebaikan (hal yang menyenangkan) dan ada kalanya yang berupa Penderitaan (hal yang menyusahkan). Hal ini diterangkan dalam surat al-A’raaf ayat 168, “Dan kami telah menguji mereka dengan kebaikan (kenikmatan) dan kejelekan (bencana) agar mereka mau kembali (ke jalan yang benar).”

Juga pada surat al-Anbiyaa’ ayat 35, “Dan kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada kamilah kalian semua akan dikembalikan.”
Dengan demikian, segala hal yang dialami dalam hidup manusia ini pada hakiktnya adalah ujian dari ALLAH yang harus disikapi secara benar sesuai dengan ajaran-Nya. Pensikapan yang benar terhadap segala bentuk ujian inilah yang disebut SABAR.

Menghadapi ujian berupa kesenangan atau kenikmatan jauh lebih berat dari pada ujian yang berupa kesulitan. Artinya bahwa seseorang sering kali menjadi lupa ajaran Allah dan kehilangan kendali diri ketika mendapatkan kesuksesan/kesenanagan.

Oleh sebab itu patutlah kita memperhatikan peringatan Allah bahwa berbagai bentuk kesenangan dan kenikmatan pada hakikatnya adalah juga merupakan Ujian. Dan Allah Mengingatkan agar kita jangan sampai terlena dan menyeleweng dari ajaran-Nya oleh berbagai kesenangan tersebut.

Di dalam surat an-Anfaal ayat 28 Allah Mengingatkan bahwa harta kekayaan dan anak-anak (keluarga) adalah sebagian dari bentuk kesenangan yang merupakan ujian. Oleh karenanya Allah Mengingatkan dalam surat al-Munaafiquun ayat 9, “Wahai orang-orang yang beriman jangankah hartamu dan anak-anakmu membuat kamu berpaling dari mengingat Allah (mematuhi ajarannya).”

Melalui media yang mulia ini marilah kita meneguhkan semangat untuk menjadi hamba-hamba Allah yang SABAR dalam menghadapi berbagai ujian hidup baik yang berupa kesulitan/penderitaan maupun yang berupa kesenangan/kenikmatan, sehingga kita tetap memiliki hubungan yang baik dan dekat dengan Allah, serta tidak pernah menyimpang dari ajaran-Nya. Hal ini penting untuk kita upayakan karena hanya orang yang sabarlah yang dijanjikan anugerah besar dari Allah, berupa kesejahteraan, kasih sayang (rahmat) dan petunjuk jalan hidup yang benar. Hal ini dinyatakan oleh Allah pada surat al-Baqarah ayat 157, “Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan Rahmat dari Tuhan mereka, dan merekalah yang mendapatkan petunjuk (jalan yang benar).”
Wallaahu A’lam bishhowaab.

Oleh dr. H Minanurrahman  / Joni
×
Berita Terbaru Update