-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

​Simulasi dan Pencegahan Kondisi Darurat. Mahal? Pasti!

Jumat, 01 September 2017 | 9/01/2017 07:10:00 PM WIB Last Updated 2017-09-01T12:10:40Z
Bencana tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Namun demikian, bagi masyarakat modern saat ini, setiap kejadian terburuk, harus bisa diantisipasi dan dipersiapkan penanganannya dengan sebaik-baiknya. 


Kita sering melihat di TV dan berita, beberapa instansi melakukan simulasi penanganan kondisi krisis. Tentara melakukan latihan perang gabungan. Basarnas melakukan simulasi penanganan bencana alam. Polisi melakukan simulasi penganan demo.
Itu semua dalam rangka mempersiapkan dan melakukan test manajemen penanganan krisis pada bidang tugas masing-masing. Dengan melakukan simulasi, pemangku kepentingan bisa memiliki pengalaman dan sekaligus melakukan evaluasi untuk mengetahui pada aspek-aspek mana saja, “lubang” penanganan krisis masih harus diperbaiki.
Di perusahaan saya (perbankan), perencanaan pada saat kondisi krisis menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan. Otoritas jasa keuangan (BI dan OJK) mewajibkan seluruh perbankan mempersiapkan penanganan krisis tersebut. Manajemen penanganan dalam kondisi krisis dipersiapkan dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Tujuan utamanya adalah sesegera mungkin untuk dapat melakukan recovery layanan kepada nasabah, sesaat setelah ada risiko muncul.
Penanganan krisis paling sederhana adalah menyediakan backup power listrik berupa Uninterrupted Power Supply (UPS) di setiap terminal PC Teller, Customer Service dan server. Tidak hanya sekedar UPS, bahkan di setiap kantor pasti tersedia Genset. 
Mahal? Pasti! 
Tetapi, di jaman sekarang layanan kepada nasabah adalah yang paling penting. Itu akan menjadi lucu jika layanan bank terkendala hanya karena mati listrik sementara.
Minimal setiap setahun sekali, perusahaan saya juga diwajibkan melakukan simulasi kebencanaan yang diikuti oleh seluruh pegawai dalam satu kantor. Simulasi dilakukan untuk penanganan kejadian bencana yang lebih besar seperti : kebakaran dan gempa bumi.
Apakah hanya itu? Tidak! 
Pada bulan Oktober 2014, tanpa diketahui oleh nasabah, perusahaan saya telah melakukan simulasi bencana yang amat sangat berisiko : memindahkan operasional sistem Core Banking dari sistem utama ke sistem backup. 
Pada hari itu, Teller tetap melakukan transaksi dengan nasabah secara normal. Customer Service juga melayani pembukaan rekening seperti biasa. Nasabah juga melakukan transaksi melalui ponsel, seperti biasa. Semuanya tidak ada hal yang istimewa. 
Dari sisi teknologi perbankan, hal itu adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Bagaimana tidak ? Jutaan transaksi real di teller dan e-banking di sistem core banking “dipertaruhkan” selama sehari. Risikonya sangat besar. Kesalahan teknis dan perhitungan sedikit saja, ada kemungkinan transaksi tidak tercatat di database sistem utama dan di backup sistem. Atau ada kemungkinan, gagal terjadi replikasi transaksi.
Bersyukurlah, simulasi kebencanaan itu berjalan sukses. Tidak ada permasalahan yang berarti.
Sekali lagi pasti ada pertanyaan : mahal? Sudah pasti!
Dengan suksesnya simulasi tersebut, perusahaan saya telah memiliki pengalaman dan kemampuan penanganan kebencanaan. Jadi, jika misalnya : Jakarta hancur karena sesuatu hal, entah bencana alam atau perang, maka database keuangan nasabah perusahaan saya tetap aman dan terjaga.
Nah itulah persiapan kebencanaan yang dilakukan perusahaan saya. 
Mahal? Pasti! 
Simulasi seperti itulah seharusnya yang perlu dipersiapkan oleh pemangku kepentingan di bidang dan institusi masing-masing,  untuk mengantisipasi permasalahan darurat yang mungkin akan terjadi.

oleh : Suhartono
×
Berita Terbaru Update