-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Penumpang Damri Bandara Naik 20 Persen

Minggu, 02 Juni 2019 | 6/02/2019 03:16:00 PM WIB Last Updated 2019-06-02T08:21:41Z
Mahalnya tiket pesawat ternyata tidak mempengaruhi antusiasme masyarak untuk menggunakan jasa transportasi udara. Seperti yang diungkapkan Rizal. Mahasiswa Universitas Mataram ini, rela merogoh kocek hingga Rp 1,2 juta untuk mudik ke kampung halamannya di Jakarta.

Alhamdulillah dapat tiket harganya segitu, itupun dari maskapainya bilang udah termasuk harga tiket promosi,” terangnya, kemarin (30/5).

Dibandingkan sebelum, ia bisa mendapat harga Rp 600 ribu sampai  700 ribu. Sementara jelang mudik Lebaran, biasanya Rp 900 ribu. Sangat berbeda pada tahun ini, harganya naik dua kali lipat. Namun, Rizal tidak punya pilihan lain. Karena ini satu-satunya alat transportasi yang menurutnya aman dan cepat.

“Kalau naik kapal, kapan sampainya ya makanya ini diusahakan pakai pesawat, nggak bawa barang banyak-banyak, ini pakaian aja biar nggak kena biaya bagasi berbayar,” tandasnya.

Sementara itu, General Manager Perum Damri Cabang Mataram Jajak Sumijan mengakui, pasca kenaikan harga tiket pesawat yang berlaku sejak awal tahun ini, ,membuat dirinya mengubah beberapa kebijakan.

“Salah satu kebijakan yang saya ubah yaitu penumpang yang kami angkut ke bandara sebelumnya per 30 menit sekali, sekarang satu jam sekali,” kata dia.

Hal ini untuk meminimalisasi biaya operasional bus yang membengkak. Bahkan tidak sedikit bus yang lalu lalang dalam kondisi kosong. Karena penumpang yang diangkut dari pool Damri ke Bandara Internasional Lombok (BIL) dan sebaliknya tak lebih dari tujuh orang. Jelas pendapatan dari rute ini mengalami penurunan sampai 40 persen.

“Belum bangkit dari pasca gempa, lagi kita dihadapkan dengan mahalnya tiket pesawat ini,” terang Jajak.

Namun, jelang mudik Lebaran setidaknya sedikit bisa membantu pemulihan itu. Ia menyebut, kenaikan penumpang pada kondisi sekarang ditaksir mencapai 20 persen. Menurutnya, masyarakat terpaksa berhadapan dengan harga mahal, karena mau tidak mau harus menggunakan moda angkutan udara.

“Karena situasi kayak gini, Alhamdulillah ada kenaikan tetapi itu nggak mengubah kebijakan, kami tetap berangkatkan penumpang setiap satu jam sekali,” pungkas Jajak. (yun/r5)

Liputanntb.id – Joni Irawan
Sumber : lombokpost.net 31 Mei 2019

×
Berita Terbaru Update