Dwi Prastyo
Dwi Prastyo
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Dampak MotoGP Mandalika, Perputaran Uang di Mataram Capai Rp 43 Miliar

JUARA MANDALIKA: Pembalap MotoGP dari tim KTM Tech 3 Miguel Oliveira melakukan selebrasi usai merajai Sirkuit Pertamina Mandalika, Minggu (20/3). (Ivan/Lombok Post)

LIPUTANNTB.ID, MATARAM-Aktivitas perekonomian Kota Mataram mengalami peningkatan signifikan selama perhelatan MotoGP Mandalika akhir pekan lalu. Dari hasil survei akademisi Universitas Mataram Dr. Prayitno Basuki, perputaran uang selama perhelatan MotoGP di Kota Mataram mencapai Rp 43 miliar.

“Dari kajian yang disampaikan secara akademis oleh ekonom Unram, peredaran uang yang terjadi di Mataram saat perhelatan MotoGP kurang lebih sekitar Rp 43 miliar. Dilihat dari pergerakan sektor jasa dan perdagangan,” terang Kepala Dinas Kominfo Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa kepada Lombok Post, kemarin (23/3).

Sektor yang paling merasakan dampak MotoGP ini dijabarkan Suwandiasa adalah perhotelan, restoran atau kuliner dan cendera mata produk UMKM. Sektor ini paling menggeliat karena dari puluhan ribu warga yang menonton MotoGP di Sirkuit Mandalika, 30 sampai 40 persen menginap di Kota Mataram. Sehingga mereka pun membelanjakan uangnya di ibu kota provinsi NTB.

Banyaknya penonton MotoGP yang menginap di Mataram diyakini Suwandiasa akan berdampak pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Karena perpuataran uang Rp 43 miliar itu baru sebatas aktivitas penonton hanya selama tiga hari selama event berlangsung. Belum termasuk peprutaran uang setelah perhelatan MotoGP.

“Karena setelah tanggal 20 pun masih banyak warga yang beraktivitas di Kota Mataram. Ada yang liburan atau tinggal sementara waktu untuk jalan-jalan,” bebernya.

Sejumlah tempat yang dikunjungi penonton MotoGP selama berada di Kota Mataram diantaranya Taman Sangkareang, Kota Tua Ampenan, Loang Baloq hingga Sekarbela.

Terpisah, Dr Prayitno Basuki kepada Lombok Post memaparkan dampak ekonomi pelaksanaan MotoGP di Mandalika dlihat dari beberapa aspek. “Dilihat dari pengeluaran penonton untuk akomodasi, konsumsi, transportasi, rekreasi sebelum dan sesudah even MotoGP, pembelian souvenir, dan pengeluaran lainnya,” paparnya.

Berdasarkan survei sangat terbatas pada hari H-2, hari H-1 dan hari H pada tanggal 20 Maret 2022 diperoleh data rata-rata pengeluaran penonton untuk akomodasi, konsumsi, transport lokal dan souvenir selama di Lombok. Pengeluaran akomodasi per hari sebesar Rp 900.000, pengeluaran konsumsi selama di Lombok sebesar Rp750.000, pengeluaran konsumsi selama menonton Rp 450.000, pengeluaran transport lokal sebesar Rp250.000, rata-rata sewa mobil selama di Lombok sebesar Rp 1.900.000, dan rata-rata pengeluaran untuk souvenir sebesar Rp 550.000.

Jika jumlah pengeluaran dikalikan dengan jumlah penonton sesuai tiket yang disediakan, maka total pengeluaran yang diasumsikan sebagai penerimaan daerah mencapai sekitar Rp 125 miliar. Namun ini untuk jumlah penerimaan di Pulau Lombok. Untuk perputaran uang di Kota Mataram dilihat dari persentase kontribusi pelaku bisnis lokal di Kota Mataram. Yang kisarannya 30-50 persen.

Jika mencermati hasil perhitungan dampak penyelenggaraan MotoGP terhadap perekonomian Kota Mataram, jumlahnya sebesar Rp 43,4 miliar. Itu belum dengan perhitungan dampak multiplier atau dampak pengganda.

Bila dilakukan perhitungan dampak pengganda atau multiplier effect, maka dengan skenario moderat besarnya efek pengganda sebesar 3,42 kali dampak total sementara penyelenggaraan event MotoGP terhadap Kota Mataram sebesar Rp 149 miliar.

Bila menggunakan skenario optimis dengan efek pengganda sebesar 5,22 kali, maka dampak total sementara penyelenggaraan event MotoGP terhadap Kota Mataram hampir sebesar Rp 227 miliar. “Ke depannya jajaran pemangku kebijakan di Kota Mataram diharapkan mampu untuk lebih mengoptimalkan dampak ekonomi dari penyelenggaran event-event internasional di Provinsi NTB,” sarannya. Source : lombokpost.jawapos

Berbagi

Posting Komentar