Dwi Prastyo
Dwi Prastyo
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Fakta di Balik Rencana Pemerintah Naikkan Harga Pertalite dan LPG 3 Kg

Pertalite. ©2015 merdeka.com/muhammad luthfi rahman
LIPUTANNTB.ID - Pemerintah berencana menaikkan harga Pertalite dan elpiji 3 kilogram (Kg). Keputusan jadi naik atau tidaknya akan diumumkan pemerintah saat kajian selesai dilakukan.

"Sesudah kita kaji, nanti kita umumkan, tapi saat sekarang belum," kata Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyebut pemerintah akan menaikkan harga Pertalite dan LPG 3 Kg secara bertahap. Dia menyebut kenaikan akan dimulai periode Juli hingga September 2022.

"Over all, yang akan terjadi itu Pertamax, Pertalite, gas yang 3 kilo itu bertahap. Jadi 1 April (Pertamax), nanti Juli, nanti September itu bertahap (naiknya) dilakukan oleh pemerintah," ujarnya.

Berikut rangkuman fakta yang telah terungkap sejauh ini terkait harga Pertalite dan LPG 3 Kg.

1. Harga Bahan Baku di Dunia Sudah Mahal

Menko Luhut menyebut, kebijakan penyesuaian itu imbas dari kenaikan harga sejumlah komoditas. Menurutnya, rencana tersebut mengemuka dalam rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo.

Menko Luhut mencatat, saat ini, harga minyak mentah dunia telah menembus level USD 100 per barel. Sedangkan, dalam asumsi alokasi APBN harga minyak dipatok USD 63 per barel.

"Kan angkanya sudah luar biasa," tekannya.

Menko Luhut menyebut, kenaikan komoditas minyak mentah dunia sendiri dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Antara lain dengan peningkatan permintaan akibat pemulihan ekonomi global hingga perang antara Rusia dan Ukraina.

2. Pertalite Terakhir Naik Harga di 2019

Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga-Subholding Commercial & Trading Pertamina, Irto P Gintings mengatakan, Pertalite terakhir dilakukan penyesuaian harga tiga tahun lalu, yaitu pada Januari 2019. Selama pandemi dan hingga masa pemulihan ketika harga minyak telah naik, belum ada penyesuaian harga kembali untuk Pertalite.

Hingga Januari 2022, porsi konsumsi Pertalite sekitar 52 persen dari total konsumsi BBM nasional. Sedangkan porsi BBM lainnya (Pertamax Series dan Dex Series) sekitar 13 persen yang merupakan BBM yang tidak disubsidi dan tidak dikompensasi.

Pada awal Maret 2022, harga Pertalite masih tetap yaitu Rp 7.650 per liter. Sementara SPBU Shell, sejak Januari 2022 tidak lagi menjual Shell Regular yang memiliki RON 90.

SPBU asal Belanda ini hanya memasarkan Shell Super (RON 92) hingga Shell V-Power Nitro + (RON 98). Produk BBM RON tinggi itu, sama seperti produk dari BP-AKR dan Vivo, harganya jauh lebih tinggi dari produk BBM RON serupa yang dijual Pertamina.

3. Keputusan Tak Naikkan Harga Pertalite Tak Sehat untuk Jangka Panjang

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menyebut bahwa keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga Pertalite di tengah gejolak harga minyak dunia dinilai realistis dan tepat dalam jangka pendek. Ini penting dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, kebijakan ini dinilai tidak tepat apabila diterapkan dalam jangka panjang.

Menurut Josua, kebijakan subsidi BBM yang dilakukan setiap tahun menjadi kontraproduktif terhadap anggaran, mengingat subsidi BBM merupakan kegiatan konsumtif dan subsidi tersebut cenderung tidak tepat sasaran kepada masyarakat miskin dan menengah ke bawah.

Selain itu, disparitas harga yang tinggi berpotensi menimbulkan distorsi pasar dan tindakan menyalahgunakan subsidi seperti menjual ke industri, penyelundupan, dan sebagainya. sumber : merdeka.com

Berbagi

Posting Komentar