-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Awas! Kecanduan Game Bisa Bikin Halusinasi

Jumat, 10 November 2023 | 11/10/2023 09:10:00 AM WIB Last Updated 2023-11-10T02:19:24Z

Foto: Shutterstock

Awas! Kecanduan Game Bisa Bikin Halusinasi


LIPUTANNTB.net  -  Jakarta - Para gamer, yang sudah mencapai titik ekstrem, berisiko mengidap gangguan psikologis yang membuat mereka menghalusinasikan pengalaman saat bermain game. Nama kondisi psikologis ini adalah, Gaming Transfer Phenomenon (GTP). Pengidap gangguan ini adalah seorang non-psikotik. Setelah bermain game berkepanjangan, mereka akan membayangkan pengalaman di dalam game secara tidak langsung ke dunia nyata. GTP didefinisikan oleh International Classification of Diseases sebagai bagian dari gangguan kecanduan game video atau Gaming Disorder (GD)


Kolese Psikiater Australia dan Selandia Baru (RANZCP) melakukan pertemuan pada bulan Juni lalu, tepatnya di Kota Perth, Australia Barat. Di sana, mereka mendiskusikan berbagai gangguan kesehatan mental dan potensi pengobatannya, termasuk di dalamnya membahas soal GD.


Merujuk pada prediksi RANZCP, ada 10 persen anak muda Australia yang mengidap GD dan selama pandemi COVID-19, kasus ini terus meningkat. Fiona Stanley Hospital (FSH), rumah sakit yang telah berdedikasi sejak 2021 sebagai klinik GD, menemukan bahwa gangguan ini seringkali tak terlihat. Dokter harus memberikan pertanyaan secara langsung untuk akhirnya gangguan ini terdeteksi pada seorang pasien.


Bagi beberapa pengidap, GD bisa menjerumuskan anak pada penolakan dari sekolah maupun universitas, pengangguran, utang judi, dan bahkan isu perilaku seperti sifat agresif. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti neurodevelopmental, yaitu gangguan pada perkembangan otak, fobia sosial, dan masalah keluarga.


Kavita Seth, psikiater kecanduan dari FSH mengatakan pada bulan September bahwa gangguan ini dimulai saat seorang gamer bermain game sampai titik di mana mereka tidak bisa berhenti. Di titik ini, mereka akan mudah merasa tersakiti bila ada orang lain yang berusaha menghentikan mereka.


"Mereka lebih memilih bermain game daripada tidur, makan, pergi ke sekolah, serta menyelesaikan PR dan kegiatan sosial," ujar Kavita seperti dikutip detikINET dari News.com.au, Kamis (9/11/2023)


Beberapa pasien GD adalah seorang pengidap GTP bila mereka merasa dapat melihat elemen-elemen di dalam game di dunia nyata, padahal tidak sedang bermain game. Atau, mereka merasa mendengar audio atau musik dari game, padahal mereka selesai bermain game cukup lama.


Ilmuwan psikolog sekaligus psikologi pascadoktoral Angelica Ortiz de Gortari, di dalam artikel risetnya, mengungkap pengalaman seorang gamer berusia 17 tahun yang berhalusinasi isi game di dunia nyata.


"Di saat saya masih seorang pemain ekstrem dari game WoW (World of Warcraft), di saat adrenalin terpompa, aku mulai melihat informasi nyawa karakter game di atas kepala orang-orang," ujarnya seorang pasien.


Gamer lain bernama Daniel Owens juga bercerita bahwa ia baru-baru ini lagi setia dengan game Portal 2. Ia sampai terganggu pola tidurnya. Saat tubuhnya terasa sedang tertidur, pikirannya masih bekerja.



"Saya belum pernah mengalami apa pun dalam kehidupan nyata saya, tetapi saya bisa melihat hal itu mungkin terjadi pada seseorang yang lebih sering bermain video game," ujar Daniel.


Angelica mengatakan bahwa fenomena yang terjadi pada pengidap GTP ini tidak melulu berkaitan dengan permainan game video. Pasalnya, faktor kunci pemicu gangguan adalah beban kognitif yang tinggi, kondisi trans, kelebihan asupan sensorik, dan keterlibatan emosional. Untuk itu, diagnosis GTP bisa saja keliru dengan halusinasi psikotik.


Menurut sebuah riset dari psikolog Universitas Macquarie Wayne Warburton, ada 10 persen anak-anak Australia menunjukkan tanda-tanda bermain game di tingkat berbahaya, sedangkan 3 persennya dapat digolongkan sebagai pengidap GD.


Ini adalah sebuah fakta mengerikan. Dengan kemajuan teknologi, yang masih akan terus berkembang, kecanduan bermain di depan layar membuat anak-anak menjadi agresif dan bahkan sedikit brutal saat layar tersebut dilepas dari mereka. Wayne bahkan mengatakan bahwa ia pernah melihat anak-anak yang sangat depresi, cemas, dan bahkan memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.


Kecanduan game menjadi isu berkelanjutan di lingkungan medis. Satu hal yang perlu dilakukan bisa seseorang kemungkinan mengidap GD adalah pergi ke ahlinya. Dapatkan pengobatan dari spesialis agar gangguan yang bisa menjangkit di kehidupan masa depan itu bisa cepat dihilangkan.


"Terjadinya GTP mengajak kita untuk merefleksikan kerentanan kita terhadap paparan rangsangan sintetis dan tantangan yang akan dihadapi pikiran manusia akibat kemajuan teknologi yang masih akan datang," ujar Angelica.


Artikel ini ditulis oleh Khalisha Fitri, peserta Program Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom. sumber : detik.com



×
Berita Terbaru Update