Dwi Prastyo
Dwi Prastyo
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan Lengkap dengan Rangkaian Kegiatannya

Gogle


LIPUTAN NTB -- Galungan dan Kuningan merupakan hari-hari suci bagi umat Hindu. Lantas, apa makna Galungan dan Kuningan?


Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, Hari raya Galungan dirayakan oleh umat Hindu setiap 6 bulan Bali (210 hari) yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Untuk itu, tanggal perayaan Galungan berbeda setiap tahunnya dalam kalender Masehi.


Adapun jarak antara Galungan dan Kuningan ialah 10 hari. Kuningan dirayakan pada Sabtu pada wuku Kuningan dalam kalender Bali. Hari raya Galungan dan Kuningan ini dirayakan sebanyak dua kali dalam setahun kalender Masehi.

Penetapan Hari Raya Galungan dan Kuningan 2024 telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Bali, melalui Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 7 Tahun 2023 tentang Hari Libur Nasional, Cuti Bersama dan Dispensasi Hari Raya Suci Hindu di Bali Tahun 2024. Tercantum, Hari Raya Galungan jatuh pada tanggal 28 Februari dan 25 September 2024. Sedangkan Kuningan akan diperingati pada 9 Maret dan 5 Oktober 2024.

Makna Hari Raya Galungan
Dikutip dari buku Hari Raya Galungan Sebagai Momentum Bertumbuhnya Dharma dalam Diri yang diterbitkan oleh STAHN-TP Palangka Raya, Hari Raya Galungan merupakan simbol perayaan hari kemenangan kebaikan/kebenaran (dharma) atas ketidak baikan (adharma). Hari Raya Galungan dikenal juga sebagai hari "Rerahinan Gumi" yang artinya semua umat Hindu wajib melaksanakannya agar terhindar dari marabahaya.

Hari Galungan dipercaya dapat memberikan kekuatan spiritual bagi umat Hindu. Hal ini akan membuat mereka memiliki kekuatan fisik dan non-fisik untuk membedakan mana perbuatan yang baik dan tidak baik.

Peringatan Galungan merupakan momen untuk menyatukan kekuatan pikiran, perkataan, dan perbuatan untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran atau kebaikan. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang merupakan wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan dalam pikiran itu merupakan wujud adharma.

Makna Hari Raya Kuningan
Dikutip dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Hari Raya Kuningan juga disebut Tumpek Kuningan. Kuningan berarti mencapai peningkatan spiritual dengan cara intropeksi diri agar terhindar dari marabahaya.

Di Hari Raya Kuningan, umat Hindu meyakini bahwa para Dewa dan Bhatara yang diiringi oleh para leluhur turun ke bumi hanya sampai tengah hari. Oleh karena itu, persembahyangan Hari Kuningan hanya tengah hari saja atau sampai pukul 12.00 Wita.

Dikutip dari jurnal Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung yang berjudul Makna Hari Raya Kuningan pada Umat Hindu, disebutkan bahwa Hari Raya Kuningan bertujuan untuk memuja para dewa dan leluhur dengan sepenuh hati. Tujuan pemujaan tersebut tidak lain agar para dewa dan leluhur melimpahkan karunia-Nya dan memperoleh keselamatan.

Setiap prosesi Kuningan mengandung makna berdoa, meminta keselamatan, dan ketentraman hidup. Di Hari Raya Kuningan, umat Hindu memberikan sesajen sebagai persembahan kepada para dewa. Sesajen tersebut mengandung lambang komunikasi dengan para dewa.

Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan
Hari Raya Galungan dan Kuningan memiliki sejumlah rangkaian kegiatan. Berikut rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan yang dilansir dari situs Pemerintahan Kabupaten Buleleng.

Tumpek Wariga
Tumpek Wariga jatuh pada 25 hari sebelum Galungan. Pada hari Hari Tumpek Wariga Ista Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Sangkara yang merupakan Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan.

Umat Hindu biasanya merayakan hari ini dengan menghaturkan banten (sesaji) yang berupa bubuh (bubur) sumsum yang berwarna, seperti:

Bubuh putih untuk umbi-umbian

Bubuh bang untuk pada-padangan

Bubuh gadang untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara generatif

Bubuh kuning untuk bangsa pohon yang berkembangbiak secara vegetatif

Di hari Tumpek Wariga ini, semua pepohonan akan disirati tirta tirta wangsuhpada/air suci yang dimohonkan di sebuah Pura/Merajan. Air tersebut diberi bubuh disertai dengan canang pesucian, sesayut tanem tuwuh dan diisi sasat.

Pemilik pohon akan mengetok atau mengelus batang pohon sambil bermonolog. Berikut monolognya:

"Dadong- Dadong I Pekak anak kija

I Pekak ye gelem

I Pekak gelem apa dong?

I Pekak gelem nged

Nged, nged, nged"

Dialog tersebut mengandung makna harapan si pemilik pohon agar pohon yang akan diupacarai tersebut dapat segera berbuah sehingga dapat digunakan untuk upacara Hari Raya Galungan.

Sugihan Jawa
Sugihan Jawa dilaksanakan setiap hari Kamis Wage wuku Sungsang. Sugihan Jawa sendiri berasal dari 2 kata, yakni Sugi dan Jawa.

Sugi memiliki arti bersih, suci. Sedangkan Jawa berasal dari kata jaba yang artinya luar. Jadi Sugihan Jawa adalah hari sebagai pembersihan/penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia (bhuana agung).

Dalam acara ini, umat Hindu akan melakukan upacara yang disebut dengan Mererebu atau Mererebon. Ini adalah upacara yang dilaksanakan dengan tujuan untuk menetralisir segala sesuatu yang negatif yang berada pada Bhuana Agung.

Sugihan Bali
Sugihan Bali dilaksanakan setiap Jumat Kliwon wuku Sungsang. Sugihan Bali adalah penyucian atau pembersihan diri sendiri atau bhuana alit.

Di rangkaian acara ini, umat Hindu akan mandi, melakukan pembersihan diri secara fisik dan memohon Tirta Gocara kepada Sulinggih. Hal tersebut merupakan simbolis penyucian jiwa raga untuk menyambut Galungan yang sudah semakin dekat.

Hari Penyekeban
Hari Penyekeban dilakukan setiap Minggu Pahing wuku Dungulan. Di hari ini, umat Hindu akan mengekang diri agar tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama.

Hari Penyajan
Penyajan berasal dari kata "saja" yang dalam bahasa Bali berarti benar, serius. Rangkaian acara yang satu ini memiliki filosofis untuk memantapkan diri guna merayakan Hari Raya Galungan.

Hari Penyajan dilakukan setiap Senin Pon wuku Dungulan. Hari ini diyakini bahwa umat Hindu akan digoda oleh Sang Bhuta Dungulan untuk menguji sejauh mana tingkat pengendalian dirinya untuk melangkah lebih dekat lagi menuju Galungan.

Hari Penampahan
Umat Hindu di Hari Penampahan akan disibukkan dengan pembuatan penjor. Ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala anugerah yang diterima selama ini.

Penjor dibuat dari batang bambu melengkung yang dihiasi sedemikian rupa. Tidak hanya membuat penjor, umat Hindu juga menyembelih babi yang dagingnya akan digunakan sebagai pelengkap acara.

Penyembelihan babi ini juga mengandung makna simbolis, yakni membunuh semua nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia.

Hari Raya Galungan
Acara ini adalah puncak rangkaian Hari Raya Galungan. Mulai dari persembahyangan di rumah masing-masing kemudian dilanjutkan ke Pura sekitar lingkungan.

Hari Umanis Galungan
Pada Hari Umanis Galungan, umat Hindu akan melaksanakan persembahyangan dan dilanjutkan dengan Dharma Santi dan saling mengunjungi sanak saudara atau tempat rekreasi.

Hari Pemaridan Guru
Pemaridan Guru berasal dari kata marid dan guru. Memarid sama artinya dengan ngelungsur/nyurud (memohon). Sedangkan Guru mengarah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.Jadi dapat diartikan bahwa Hari Pemaridan guru adalah hari memohon anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi.

Ulihan
Ulihan artinya pulang atau kembali. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah hari kembalinya para dewata-dewati/leluhur ke kahyangan dengan meninggalkan berkat dan anugerah panjang umur.

Hari Pemacekan Agung
Kata pemacekan adalah bahasa Bali berasal dari kata pacek yang artinya tekek atau tegar. Pemecekan Agung bermakna sebagai simbol keteguhan iman umat manusia
atas segala godaan selama perayaan hari Galungan.

Hari Kuningan
Hari Suci Kuningan dirayakan umat dengan cara memasang tamiang, kolem, dan endong. Tamiang adalah simbol senjata Dewa Wisnu karena menyerupai cakra.

Sedangkan kolem adalah simbol senjata Dewa Mahadewa, dan endong adalah simbol kantong perbekalan yang dipakai oleh Para Dewata dan leluhur saat berperang melawan adharma.

Di Hari Kuningan ini, umat Hindu melakukan persembahan dan persembahyangan sebelum jam 12 siang. Hal ini dikarenakan terdapat keyakinan bahwa semua Dewata akan kembali ke Kahyangan setelah jam 12 siang.

Hari Pegat Wakan
Hari Pegat Wakan adalah rangkaian terakhir dari perayaan Galungan dan Kuningan. Rangkaian acara yang satu ini dilaksanakan dengan cara melakukan persembahyangan, dan mencabut penjor yang telah dibuat pada hari Penampahan.

Penjor tersebut dibakar dan abunya ditanam di pekarangan rumah. Pegat Wakan jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Pahang, sebulan setelah galungan.

Nah, itulah tadi makna Hari Raya Galungan dan Kuningan lengkap dengan rangkaian acaranya. Semoga bermanfaat ya, detikers! sumber detikcom


 

Berbagi

Posting Komentar